Runtuhnya Terra Luna: Saat Stablecoin Kehilangan Patokan
Sebuah mata uang kripto yang dirancang selalu bernilai satu dolar tiba-tiba kehilangan patokannya. Dalam hitungan hari, kekayaan setara ratusan triliun rupiah menguap dan kepercayaan investor hancur.
Apa itu Terra, Luna, dan UST?
Ekosistem Terra punya dua aset utama. Pertama, UST (TerraUSD), sebuah stablecoin, yaitu mata uang kripto yang dirancang agar nilainya selalu stabil di angka USD 1. Kedua, Luna, token pendamping yang nilainya bisa naik turun bebas mengikuti pasar.
Bedanya dengan stablecoin lain, UST tidak dijamin penuh oleh uang dolar sungguhan di bank. Nilainya dijaga lewat mekanisme algoritma yang mengandalkan Luna. Model seperti ini disebut stablecoin algoritmik. Di atas kertas terlihat pintar, tetapi menyimpan kelemahan besar jika kepercayaan pasar runtuh. Proyek ini digawangi oleh pengusaha asal Korea Selatan, Do Kwon, lewat perusahaan Terraform Labs.
Mengapa begitu banyak yang tergoda?
Daya tarik terbesar Terra ada pada sebuah layanan bernama Anchor Protocol, yang menawarkan imbal hasil mencapai sekitar 20% per tahun bagi siapa saja yang menyimpan UST di sana. Angka sebesar itu jauh melampaui bunga tabungan atau deposito mana pun, sehingga uang mengalir masuk dalam jumlah luar biasa besar.
Masalahnya, imbal hasil setinggi itu sulit dipertahankan dalam jangka panjang tanpa aliran dana baru yang terus menerus. Banyak orang hanya melihat angka keuntungannya, tanpa benar-benar memahami dari mana sumbernya. Ketika pondasi semacam ini goyah sedikit saja, seluruh bangunan bisa runtuh dengan cepat.
Fenomena ini mengingatkan pada pola lama: ketika banyak orang melihat tetangga atau teman mendapat untung besar, rasa takut ketinggalan ikut mendorong mereka masuk tanpa banyak bertanya. Semakin ramai yang bergabung, semakin kuat kesan bahwa proyek itu aman, padahal keramaian sama sekali bukan jaminan keamanan sebuah produk keuangan.
Bagaimana keruntuhannya?
Pada Mei 2022, sejumlah besar UST dijual dalam waktu singkat. Tekanan jual itu membuat UST mulai kehilangan patokannya, turun di bawah USD 1. Begitu patokan goyah, mekanisme algoritma justru mencetak Luna dalam jumlah sangat besar untuk mencoba menambal nilai UST.
Akibatnya fatal: jumlah Luna membengkak tak terkendali sehingga harganya anjlok dari puluhan dolar menjadi nyaris nol. UST pun gagal kembali ke USD 1. Lingkaran setan ini, yang sering disebut "death spiral", menghancurkan kedua aset nyaris bersamaan. Diperkirakan nilai sekitar USD 40 miliar atau lebih lenyap hanya dalam hitungan hari.
Yang membuat keruntuhan terasa begitu cepat adalah sifat pasar kripto yang buka 24 jam tanpa henti dan bergerak sangat emosional. Begitu kepanikan dimulai, semua orang berebut keluar pada saat yang sama. Harga pun jatuh jauh lebih cepat daripada yang bisa diantisipasi siapa pun, dan tidak ada tombol "jeda" seperti di pasar saham untuk meredam kepanikan.
Apa dampaknya?
Keruntuhan Terra bukan peristiwa kecil. Banyak investor ritel, termasuk yang menaruh seluruh tabungannya, kehilangan hampir segalanya. Efeknya menjalar ke seluruh industri kripto dan ikut menyeret perusahaan lain yang terlibat, menandai awal dari rangkaian keruntuhan besar sepanjang 2022, termasuk FTX.
Bagi investor pemula, kisah ini terasa sangat menyakitkan karena UST dipasarkan sebagai aset yang "aman" dan "stabil". Justru label itulah yang membuat banyak orang berani menaruh dana besar, termasuk dana yang sebenarnya mereka butuhkan untuk kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah produk keuangan menyebut dirinya nyaris tanpa risiko, di situlah kita justru paling perlu berhati-hati.
Do Kwon kemudian menjadi buron lintas negara. Ia ditangkap pada 2023 dan menghadapi sejumlah proses hukum terkait tuduhan penipuan. Istilah "stablecoin algoritmik" pun berubah menjadi sesuatu yang membuat banyak investor waswas, sekaligus memicu perdebatan soal perlunya aturan yang lebih tegas untuk aset kripto.
Istilah penting: stablecoin seharusnya "stabil", tetapi tidak semua stablecoin sama. Ada yang dijamin uang tunai sungguhan, ada yang hanya mengandalkan rumus matematika. Keduanya jauh berbeda tingkat risikonya.
Pelajaran untuk kita
Kisah Terra Luna mengajarkan bahwa kata "stabil" atau "pasti untung" tidak pernah menghapus risiko. Sesuatu yang dijamin tidak akan jatuh justru patut dipertanyakan, apalagi jika kita tidak paham cara kerjanya. Imbal hasil 20% yang terdengar menggiurkan ternyata datang dengan risiko yang sepadan besarnya. Sebelum ikut tren investasi, kenali dulu mekanismenya dan jangan pernah menaruh seluruh tabungan pada satu aset. Semakin tinggi imbal hasil yang dijanjikan, semakin besar pula risiko yang menyertainya. Tetap waspada dan belajar lebih dulu sebelum ikut.
Secara praktis, waspadai setiap produk yang menonjolkan kata "stabil" atau imbal hasil tetap yang tinggi tanpa penjelasan jelas soal sumbernya. Pahami dulu cara kerjanya, batasi jumlah dana yang berani kita risikokan, dan jangan pernah memakai uang kebutuhan pokok atau dana darurat untuk berspekulasi pada aset yang bergejolak.
Sesuatu yang dijanjikan 'tidak mungkin jatuh' justru paling sering membuat kita lengah. Di pasar, kata 'pasti' hampir selalu jadi tanda untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang.
Riska Adinda UtamiSumber
- Wikipedia, "Terra (blockchain)" en.wikipedia.org
- Reuters, liputan keruntuhan TerraUSD dan Luna reuters.com
- CNBC, laporan anjloknya Terra Luna 2022 cnbc.com

Komentar
0 komentar