Kripto & Aset Digital

Skandal OneCoin: Kripto Palsu dan Sang Cryptoqueen

Kripto yang dipromosikan besar-besaran di panggung megah itu ternyata tidak pernah benar-benar ada. Kisah OneCoin dan sang 'Cryptoqueen' adalah salah satu penipuan terbesar dalam sejarah, dan pendirinya kini masuk daftar buronan paling dicari FBI.

Pembicara di atas panggung dengan lampu sorot dan audiens
Ilustrasi pembicara di atas panggung di hadapan audiens.

Apa itu OneCoin?

OneCoin muncul sekitar 2014 dari Bulgaria dan dipasarkan ke seluruh dunia sebagai mata uang kripto baru yang digadang-gadang akan "mengalahkan Bitcoin". Promosinya sangat masif, lengkap dengan acara-acara megah di panggung besar, salah satunya di sebuah arena terkenal di London. Ribuan orang hadir, bertepuk tangan, dan ikut tergerak untuk membeli.

Wajah di balik OneCoin adalah Ruja Ignatova, perempuan berpendidikan tinggi yang tampil penuh percaya diri dan dijuluki "Cryptoqueen". Ia meyakinkan jutaan orang bahwa OneCoin adalah peluang emas yang tidak boleh dilewatkan. OneCoin dijual lewat sistem pemasaran berjenjang atau multi-level marketing, tempat anggota lama mendapat komisi dengan merekrut anggota baru.

Yang membuat OneCoin istimewa, dan sekaligus sangat berbahaya, adalah skalanya yang mendunia. Ia menjangkau korban di banyak negara dari berbagai latar belakang, bukan hanya segelintir orang di satu wilayah. Besarnya jangkauan inilah yang membuatnya dicatat sebagai salah satu penipuan terbesar dalam sejarah keuangan modern. Banyak korban baru menyadari dirinya tertipu justru ketika uang mereka sudah tidak bisa ditarik kembali.

Di mana letak penipuannya?

Masalahnya mendasar: OneCoin sebenarnya tidak punya blockchain yang nyata. Pada kripto sungguhan seperti Bitcoin, setiap transaksi dicatat di buku besar digital terbuka yang bisa diperiksa siapa saja. OneCoin tidak memiliki itu. Nilai koinnya hanya ditentukan sepihak oleh perusahaan, bukan oleh pasar yang sesungguhnya, dan hampir tidak bisa benar-benar diperjualbelikan secara bebas.

Lebih dari itu, OneCoin bekerja layaknya skema piramida: anggota didorong mengajak orang baru untuk membeli paket, dan sebagian uang anggota baru dipakai membayar anggota lama. Pola ini sama seperti skema Ponzi klasik yang cepat atau lambat pasti runtuh begitu aliran uang baru berhenti.

Yang membuat OneCoin terlihat meyakinkan adalah cara penyajiannya. Ada materi presentasi rapi, situs resmi, acara mewah, dan istilah-istilah teknologi yang terdengar serius. Semua itu menciptakan kesan bahwa produknya nyata dan berkelas. Padahal kemasan yang bagus tidak pernah menggantikan substansi. Tanpa blockchain yang bisa diperiksa publik, semua kemewahan itu hanyalah panggung untuk meyakinkan korban agar terus menyetor uang.

~USD 4 Mdana diperkirakan terkumpul
Juni 2022masuk FBI Ten Most Wanted
USD 5 jutahadiah info dari AS

Lenyapnya sang Cryptoqueen

Ketika tekanan dari para penyelidik mulai menguat, Ruja Ignatova tiba-tiba menghilang pada akhir 2017. Ia terakhir diketahui terbang dari Bulgaria menuju Yunani, lalu lenyap tanpa jejak hingga hari ini.

Sampai sekarang keberadaannya masih menjadi misteri. Sejumlah orang yang terlibat dalam OneCoin kemudian ditangkap dan diadili di berbagai negara, termasuk sang kakak dan sejumlah tokoh pendukungnya, tetapi sosok utamanya belum juga tertangkap. Kisah ini bahkan dibahas dalam sebuah seri podcast investigasi terkenal.

Istilah penting: kripto sungguhan punya blockchain terbuka yang bisa diperiksa publik. Jika sebuah "koin" tidak bisa ditelusuri transaksinya secara independen, itu adalah tanda bahaya besar.

Masuk daftar FBI Ten Most Wanted

Pada 30 Juni 2022, FBI resmi memasukkan Ruja Ignatova ke dalam daftar Ten Most Wanted Fugitives, daftar buronan paling dicari di Amerika Serikat, dan saat itu ia menjadi satu-satunya perempuan di dalamnya. Menurut situs resmi FBI (fbi.gov), ia didakwa atas sejumlah kejahatan keuangan serius: konspirasi penipuan kawat (wire fraud), penipuan kawat, konspirasi pencucian uang, konspirasi penipuan sekuritas, dan penipuan sekuritas.

Untuk informasi yang membantu penangkapannya, Program Rewards Kejahatan Terorganisir Lintas Negara milik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga USD 5 juta. Ignatova terakhir diketahui terbang dari Sofia, Bulgaria, menuju Athena, Yunani, pada 25 Oktober 2017, lalu menghilang. Status buronan internasional ini menegaskan betapa besar dan seriusnya kasus OneCoin di mata penegak hukum global.

Kenapa ini soal uang, bank, dan ekonomi?

OneCoin bukan sekadar "koin palsu". Uang yang disetor jutaan korban adalah uang sungguhan, dan dana sebesar itu perlu "dibersihkan" agar bisa dinikmati pelaku. Di sinilah sistem perbankan ikut terseret. Seorang pengacara yang membantu jaringan ini, Mark Scott, terbukti di pengadilan Amerika Serikat telah mencuci sekitar USD 400 juta dana OneCoin melalui jaringan rekening, perusahaan cangkang, dan dana investasi.

Dampaknya nyata dan luas: keluarga biasa di banyak negara kehilangan tabungan, sementara nama sistem keuangan dipakai untuk melegitimasi skema ini. Kasus seperti OneCoin justru memperkuat alasan kenapa bank menerapkan aturan ketat mengenali nasabah (KYC) dan anti pencucian uang (AML), yakni untuk menyaring aliran dana hasil kejahatan sebelum masuk ke sistem keuangan resmi. Uang yang hilang dalam skema semacam ini juga tidak dijamin lembaga mana pun, berbeda dengan simpanan di bank resmi yang dilindungi LPS.

Mengapa korbannya begitu banyak?

Banyak orang ikut OneCoin bukan karena bodoh, melainkan karena terbujuk suasana. Ada panggung megah, ada tokoh yang tampil meyakinkan, ada teman atau keluarga yang sudah lebih dulu bergabung dan terlihat antusias. Tekanan sosial seperti ini sangat kuat. Ketika banyak orang di sekitar kita ikut, rasanya aneh untuk menolak, padahal justru di situlah jebakannya bekerja.

Di banyak negara, termasuk kawasan yang literasi keuangannya masih berkembang, skema seperti ini sering menyasar komunitas, pengajian, atau perkumpulan keluarga. Rasa percaya antaranggota komunitas justru dimanfaatkan agar produk tersebar cepat tanpa banyak pertanyaan kritis. Inilah sebabnya memeriksa sendiri sebuah tawaran investasi jauh lebih bijak daripada sekadar percaya karena diajak orang yang kita kenal.

Pelajaran untuk kita

OneCoin membuktikan bahwa penipuan canggih bisa bersembunyi di balik istilah teknologi yang terdengar keren. Pelajarannya: jangan pernah berinvestasi hanya karena ikut-ikutan atau takut ketinggalan. Periksa apakah produknya benar-benar ada, apakah diawasi otoritas resmi, dan apakah keuntungannya masuk akal. Jika sebuah "kripto" tidak bisa ditelusuri dan hanya mengandalkan janji serta rekrutmen, kemungkinan besar itu jebakan. Jika janjinya terlalu indah, besar kemungkinan memang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Tetap waspada.

Secara praktis, luangkan waktu untuk ragu dan bertanya sebelum ikut sebuah investasi: periksa apakah produknya benar-benar ada dan bisa diverifikasi, apakah perusahaannya terdaftar dan diawasi otoritas resmi, dan apakah keuntungannya masuk akal. Jangan terburu-buru hanya karena diajak orang dekat atau takut kehilangan momen, sebab uang yang sudah masuk ke skema penipuan hampir mustahil ditarik kembali.

Penipuan terbesar jarang terlihat seperti penipuan. Ia datang dengan panggung megah, tepuk tangan, dan janji masa depan yang terlalu indah untuk dilewatkan.

Riska Adinda Utami

Sumber

  1. Wikipedia, "OneCoin" en.wikipedia.org
  2. BBC News, liputan OneCoin dan Ruja Ignatova sang Cryptoqueen bbc.com
  3. FBI, "RUJA IGNATOVA" Ten Most Wanted Fugitives, situs resmi FBI. fbi.gov/wanted/topten/ruja-ignatova
  4. U.S. Department of Justice, dakwaan dan putusan terkait OneCoin (termasuk Mark Scott). justice.gov
Riska Adinda Utami

Riska Adinda Utami

Menulis catatan ringan berbasis data resmi seputar perbankan, keuangan, dan ekonomi, Indonesia maupun dunia. · Terhubung di LinkedIn

👁 0 kali dibaca

Komentar

0 komentar

← Kembali ke beranda