Krisis & Kejatuhan

Silicon Valley Bank: Bank Startup yang Tumbang dalam 48 Jam

Hanya butuh dua hari bagi salah satu bank favorit dunia startup untuk runtuh. Era digital membuat kepanikan menyebar lebih cepat dari sebelumnya.

Gedung perkantoran modern dengan fasad kaca
Gedung perkantoran modern berdinding kaca, wajah industri teknologi yang menyimpan dananya di SVB.

Selama puluhan tahun, Silicon Valley Bank (SVB) adalah bank andalan perusahaan rintisan teknologi dan modal ventura di Amerika Serikat. Namun pada Maret 2023, bank ini runtuh hanya dalam hitungan hari dan menjadi kegagalan bank terbesar kedua dalam sejarah Amerika saat itu.

Bank kesayangan para startup

SVB berdiri sejak 1983 dan membangun ceruk khusus: melayani perusahaan teknologi, startup, dan para pemodal ventura. Ketika dunia teknologi sedang booming, uang mengalir deras ke rekening-rekening startup, dan sebagian besar disimpan di SVB. Simpanan bank ini membengkak sangat cepat dalam waktu singkat.

Masalahnya, bank tidak membiarkan uang itu menganggur. SVB menempatkan sebagian besar dananya ke obligasi pemerintah jangka panjang, yang saat itu dianggap sangat aman.

Jebakan suku bunga naik

Di sinilah bencana dimulai. Untuk menekan inflasi, The Fed menaikkan suku bunga dengan agresif sepanjang 2022. Ketika suku bunga naik, harga obligasi lama yang berbunga rendah justru turun. Portofolio obligasi SVB pun merugi besar di atas kertas.

Selama bank tidak perlu menjual obligasi itu, kerugian hanya ada di atas kertas. Tetapi ketika banyak startup mulai menarik dananya karena pendanaan seret, SVB terpaksa menjual obligasi dalam kondisi rugi untuk memenuhi penarikan. Begitu kerugian itu terungkap ke publik, kepercayaan langsung goyah.

Bank run di era digital

Bank run adalah situasi ketika nasabah beramai-ramai menarik uang karena takut banknya kolaps. Yang membedakan kasus SVB adalah kecepatannya. Kabar menyebar lewat media sosial dan grup pesan antar pendiri startup dalam hitungan jam. Dalam satu hari saja, nasabah mencoba menarik dana puluhan miliar dolar.

Tidak ada bank yang sanggup bertahan jika sebagian besar nasabahnya ingin mengambil uang di saat bersamaan, karena uang itu sedang dipinjamkan atau diinvestasikan. Pada 10 Maret 2023, regulator resmi menutup SVB.

Maret 2023waktu kolaps
USD 209 Mperkiraan total aset
Ke-2kegagalan bank AS terbesar saat itu

Siapa yang menyelamatkan?

Untuk mencegah kepanikan menyebar ke bank lain, otoritas Amerika mengambil langkah luar biasa: menjamin seluruh simpanan nasabah SVB, bahkan yang jumlahnya di atas batas penjaminan biasa. Langkah ini meredakan krisis, meski memunculkan perdebatan soal siapa yang pantas diselamatkan.

Di Indonesia, peran penjamin simpanan ini dipegang oleh lembaga khusus. Kamu bisa membaca cara kerjanya di artikel kami tentang penjaminan simpanan.

Mengapa begitu banyak dana tidak terlindungi

Di Amerika, simpanan nasabah dijamin pemerintah hanya sampai batas tertentu per rekening. Masalahnya, nasabah SVB sebagian besar adalah perusahaan yang menyimpan dana jauh di atas batas itu untuk membayar gaji dan biaya operasional. Akibatnya, mayoritas dana di SVB berada di luar perlindungan penjaminan. Begitu muncul keraguan, wajar jika para pemilik dana berebut menarik uang lebih dulu sebelum terlambat.

Di sinilah peran media sosial terasa nyata. Para pemodal ventura saling bertukar kabar, dan sebagian menyarankan perusahaan yang mereka danai untuk segera memindahkan uang. Pesan menyebar serentak ke ribuan orang yang saling terhubung, dan penarikan pun terjadi dalam skala serta kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bank run klasik butuh antrean fisik berhari-hari; versi digitalnya cukup beberapa klik.

Keruntuhan SVB juga tidak berdiri sendiri. Dalam hari-hari yang sama, kekhawatiran menjalar ke beberapa bank lain yang dianggap punya kelemahan serupa, dan sebagian ikut tumbang atau diambil alih. Untuk memutus rantai kepanikan, otoritas keuangan Amerika tidak hanya menjamin dana nasabah SVB, tetapi juga membuka fasilitas pinjaman darurat agar bank lain punya cukup napas menghadapi gelombang penarikan. Langkah cepat ini berhasil mencegah krisis yang lebih luas, meski menyisakan pertanyaan besar tentang kualitas pengawasan perbankan.

Aman di atas kertas belum tentu aman di dunia nyata. Risiko sering muncul justru dari aset yang dianggap paling tidak berisiko.

Pelajaran untuk kita

Pertama, konsentrasi risiko itu berbahaya. SVB terlalu bergantung pada satu jenis nasabah dan satu jenis aset. Kita pun sebaiknya tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang. Kedua, pahami batas penjaminan simpanan dan sebar dana jika perlu. Ketiga, di era digital, kepercayaan bisa hilang dalam hitungan jam, sehingga informasi yang jernih dan kepala yang dingin menjadi sangat berharga.

SVB membuktikan bahwa bahkan bank modern dengan nasabah paling canggih pun tetap rapuh terhadap hal paling kuno dalam dunia perbankan: hilangnya kepercayaan.

Dulu butuh antrean panjang untuk menjatuhkan bank. Sekarang cukup satu pesan di grup chat. Secepat apa uang kita bisa menghilang di era serba digital?

Riska Adinda Utami

Sumber

  1. Wikipedia, "Collapse of Silicon Valley Bank". en.wikipedia.org
  2. FDIC, informasi penanganan kegagalan bank. fdic.gov
  3. CNBC, liputan runtuhnya Silicon Valley Bank. cnbc.com
Riska Adinda Utami

Riska Adinda Utami

Menulis catatan ringan berbasis data resmi seputar perbankan, keuangan, dan ekonomi, Indonesia maupun dunia. · Terhubung di LinkedIn

👁 0 kali dibaca

Komentar

0 komentar

← Kembali ke beranda