Ekonomi & Moneter

Inflasi: Kenapa Harga Barang Naik dan Apa Dampaknya

Pernah merasa uang Rp50.000 “tidak sebanyak dulu”? Itulah inflasi bekerja. Mari pahami angka yang diam-diam menentukan daya beli kita setiap hari.

Pasar tradisional dengan aneka sayuran
Harga kebutuhan sehari-hari adalah cermin paling nyata dari inflasi. Foto: Pexels.

Apa itu inflasi?

Inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode. Ketika inflasi terjadi, nilai uang menurun, dengan jumlah uang yang sama, kita memperoleh lebih sedikit barang.

Di Indonesia, inflasi diukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indeks Harga Konsumen (IHK), yaitu perubahan harga dari sekeranjang barang dan jasa yang biasa dikonsumsi masyarakat, dari beras, telur, hingga tarif transportasi.

Berapa inflasi Indonesia sekarang?

Menurut BPS, inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28%. Sepanjang 2026 angkanya bergerak dalam rentang yang relatif terkendali:

3,28%Inflasi YoY Sep 2026
2,88%Titik terendah (Juli)
~2,5%Sasaran Bank Indonesia

Angka ini masih berada di sekitar sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni sekitar 2,5% (dengan toleransi). Artinya, harga naik, tetapi dalam batas yang terkendali, bukan lonjakan liar.

Kenapa harga bisa naik?

  • Dorongan permintaan (demand-pull): ketika permintaan lebih tinggi dari pasokan, misalnya saat hari besar keagamaan.
  • Dorongan biaya (cost-push): naiknya biaya produksi, bahan baku, energi, atau ongkos kirim.
  • Harga pangan dan cuaca: gagal panen atau gangguan distribusi bisa mendorong harga bahan makanan melonjak.

Hubungannya dengan suku bunga

Inflasi dan suku bunga saling terkait erat. Ketika inflasi dinilai terlalu tinggi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga acuan untuk mendinginkan permintaan. Kamu bisa membaca lebih lanjut di tulisan Memahami BI-Rate.

Dampak buat kita: inflasi yang terjaga menjaga daya beli. Tapi diam-diam, inflasi juga “menggerus” nilai uang yang hanya disimpan di bawah bantal, inilah alasan menabung dan berinvestasi dengan bijak menjadi penting.

Penutup

Inflasi bukan selalu hal buruk; tingkat inflasi yang rendah dan stabil justru tanda ekonomi yang sehat. Yang perlu kita jaga adalah kewaspadaan: memahami ke mana arah harga membantu kita mengelola pengeluaran dan menabung dengan lebih cerdas.

Sumber

  1. BPS, “Inflasi year-on-year Juli 2026 sebesar 2,88 persen.” bps.go.id
  2. Databoks (Katadata), “Laju Inflasi Tahunan Indonesia Meningkat pada September 2026.” databoks.katadata.co.id
  3. Media Indonesia, “BPS Inflasi Tahunan Agustus 2026 Capai 3,19 Persen.” mediaindonesia.com
Riska Adinda Utami

Riska Adinda Utami

Menulis catatan ringan berbasis data resmi seputar perbankan, keuangan, dan ekonomi, Indonesia maupun dunia. · Terhubung di LinkedIn

👁 0 kali dibaca

Komentar

0 komentar

← Kembali ke beranda