Krisis & Kejatuhan

Barings Bank: Satu Trader yang Meruntuhkan Bank 233 Tahun

Bagaimana satu orang bisa menjatuhkan bank berusia 233 tahun? Kisah Barings Bank adalah peringatan abadi tentang bahaya pengawasan yang lemah.

Papan harga saham di lantai bursa
Papan harga di lantai bursa, dunia tempat perdagangan derivatif yang menjatuhkan Barings berlangsung.

Pada 1995, dunia keuangan dikejutkan oleh berita yang sulit dipercaya: Barings Bank, bank dagang tertua di Inggris yang berdiri sejak 1762, runtuh. Penyebabnya bukan perang atau bencana besar, melainkan ulah satu orang trader.

Bank tertua Inggris

Barings bukan bank biasa. Dengan sejarah lebih dari dua abad, bank ini pernah membiayai berbagai urusan besar dan dikenal sangat terpandang. Reputasinya begitu kuat sehingga hampir tidak ada yang membayangkan bank ini bisa jatuh.

Namun justru rasa percaya diri dan pengawasan yang longgar itulah yang membuka celah bencana.

Barings pernah melewati berbagai zaman dan dianggap sebagai lembaga yang nyaris tak tergoyahkan. Justru anggapan itulah yang berbahaya, karena membuat orang lengah terhadap risiko yang tumbuh diam-diam di dalam.

Nick Leeson dan rekening rahasia

Nick Leeson adalah trader muda Barings yang ditempatkan di Singapura. Tugasnya memperdagangkan derivatif, yaitu kontrak keuangan yang nilainya mengikuti naik turunnya harga aset lain, dalam hal ini indeks saham Jepang.

Ketika transaksinya mulai rugi, Leeson tidak melaporkannya. Ia menyembunyikan kerugian di sebuah rekening khusus yang kemudian terkenal dengan nomor 88888. Celakanya, ia juga mengurus pencatatan transaksinya sendiri, sehingga nyaris tidak ada orang lain yang mengawasi. Alih-alih berhenti, ia justru bertaruh semakin besar dengan harapan bisa menutup kerugian.

Gempa yang memperparah segalanya

Pada awal 1995, gempa besar mengguncang Kobe, Jepang. Pasar saham Jepang jatuh, dan taruhan Leeson yang bergantung pada pasar yang stabil pun berantakan. Kerugian yang semula besar berubah menjadi raksasa, menembus angka sekitar GBP 827 juta, lebih besar daripada modal yang dimiliki bank untuk berdagang.

Dengan kata lain, satu orang berhasil menumpuk kerugian yang melebihi seluruh kemampuan bank untuk menanggungnya. Begitu angka itu tersingkap, tidak ada lagi jalan kembali.

1762tahun berdiri
GBP 827 jttotal kerugian
GBP 1harga jual ke ING

Runtuh dan dijual seharga satu poundsterling

Kerugian sebesar itu tidak mungkin ditutup. Barings Bank dinyatakan bangkrut pada Februari 1995 dan akhirnya dijual kepada bank Belanda, ING, dengan harga simbolis hanya satu poundsterling. Nick Leeson sempat melarikan diri, namun kemudian ditangkap dan dipenjara di Singapura.

Bagi Inggris, kehilangan bank setua Barings terasa seperti kehilangan sebuah institusi nasional, bukan sekadar sebuah perusahaan biasa.

Yang membuat kisah ini begitu mengguncang adalah betapa sederhananya akar masalahnya: satu orang diberi kekuasaan terlalu besar tanpa pengawasan yang memadai.

Satu orang, dua peran

Pertanyaan terbesar dari kasus ini adalah bagaimana mungkin kerugian sebesar itu tidak ketahuan lebih cepat. Jawabannya terletak pada kesalahan tata kelola yang mendasar. Di kantor Singapura, Leeson tidak hanya bertugas melakukan transaksi, tetapi juga ikut mengurus pencatatan dan penyelesaiannya. Dalam dunia keuangan, dua peran itu seharusnya dipegang orang yang berbeda agar bisa saling mengontrol. Ketika keduanya berada di satu tangan, pintu untuk menyembunyikan masalah terbuka lebar.

Celakanya, selama ini Leeson justru tampak seperti bintang. Kantor pusat di London melihatnya seolah mencetak keuntungan besar, sehingga permintaan dananya terus dipenuhi tanpa banyak pertanyaan. Padahal dana itu sebagian dipakai untuk menutup taruhan yang terus merugi. Rasa percaya yang berlebihan membuat berbagai tanda bahaya diabaikan begitu saja.

Ketika semuanya tidak lagi bisa ditutupi, Leeson meninggalkan pesan singkat berisi permintaan maaf lalu kabur bersama istrinya. Ia sempat berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya ditangkap dalam perjalanan dan diserahkan untuk diadili. Pengadilan menjatuhinya hukuman beberapa tahun penjara, dan kisahnya kemudian menjadi bahan buku serta film tentang bahaya seorang rogue trader, yaitu pialang yang bertindak jauh di luar kendali.

Bukan transaksi rugi yang mematikan Barings, melainkan kerugian yang disembunyikan. Masalah kecil yang ditutupi selalu tumbuh menjadi masalah besar.

Pelajaran untuk kita

Pertama, pengawasan itu wajib, bukan tanda ketidakpercayaan. Orang yang melakukan transaksi tidak boleh menjadi orang yang sama yang mencatat dan memeriksanya. Kedua, kejujuran sejak dini jauh lebih murah; kerugian yang diakui lebih awal selalu lebih kecil daripada yang ditumpuk diam-diam. Ketiga, dalam keuangan pribadi pun, jangan pernah menggali lubang untuk menutup lubang dengan taruhan yang lebih besar.

Barings mengajarkan bahwa sistem sekuat apa pun tetap bergantung pada manusia dan kontrol yang menjaganya. Tanpa pengawasan, satu orang saja cukup untuk meruntuhkan segalanya.

Terakhir, kasus ini mengingatkan bahwa keberhasilan yang terlihat terlalu mulus justru layak dipertanyakan. Keuntungan yang konsisten tanpa risiko yang masuk akal sering kali menyembunyikan sesuatu yang tidak beres di baliknya.

Satu orang, satu rekening rahasia, dan sebuah bank berusia dua abad lebih pun lenyap. Siapa sebenarnya yang mengawasi orang-orang yang kita percayai mengelola uang?

Riska Adinda Utami

Sumber

  1. Wikipedia, "Barings Bank". en.wikipedia.org
  2. BBC News, laporan runtuhnya Barings Bank. bbc.com
Riska Adinda Utami

Riska Adinda Utami

Menulis catatan ringan berbasis data resmi seputar perbankan, keuangan, dan ekonomi, Indonesia maupun dunia. · Terhubung di LinkedIn

👁 0 kali dibaca

Komentar

0 komentar

← Kembali ke beranda